Ha dan Za senang bermain dengan pensil. Mereka senang menulis. Ha senang menjawab kuis di buku aktivitas terutama bagian untuk mencari jalan. Sekali waktu pernah satu buku khusus dibelikan. Buku itu tebalnya kira-kira 60 halaman. Setiap halaman punya gambar yang berbeda untuk diisi. Tujuan awalnya adalah untuk mengisi waktu selama seminggu ke depan. Tapi Ha tidak mengikuti skenario itu. Ia memilih mengerjakannya selama satu jam, terus menerus, tidak mau diganggu.
Ada beberapa bagian yang kelihatannya terlalu sulit untuk anak umur 4 tahun memahami petunjuknya. Apalagi semua ditulis dalam hiragana. Anehnya, Ha dengan tepat bisa menjawabnya. Setelah diamati, ternyata ada lembar jawaban di bagian belakangnya. Apa Ha sudah berlaku curang dengan melihat jawabannya sebelum menulis? Tidak. Tak ada yang memberitahu bahwa lembar di belakangnya adalah jawaban yang benar. Barangkali ia melihat ke bagian belakang dan ternyata gambarnya sama dengan yang dijawab. Ia kemudian meniru tulisan merah yang merupakan jawabannya.
Ternyata, permainan ini digunakan untuk awal anak-anak belajar menulis. Di buku lain ada bagian menelusuri gambar, misalnya garis lurus atau lingkaran seperti obat nyamuk. Kemudian dilanjutkan dengan menelusuri huruf atau angka yang mirip dengannya. Misalnya, angka 2 dipelajari dengan belajar menggambar bebek terlebih dulu. Huruf u pada deret hiragana dipelajari dengan menggambarkan bagian dari usagi (kelinci). Dengan demikian, anak belajar menulis dan membaca sekaligus.
Ha terbiasa mengamati sendiri tulisan yang ada di buku. Kemungkinan besar, ia adalah visual learner. Ia sudah bisa menulis huruf Su dalam deret hiragana.
Za senang menggambar. sebagian besar masih berupa lingkaran. Tapi ia sudah bisa menceritakan apa yang digambarnya. Gambar lingkaran besar dengan dua lingkaran kecil di dalamnya, ia sebut sebagai ‘ayah’. Lain kali ia akan emnyebut gambar yang mirip sebagai Ya, adiknya.